Sabtu, 13 Juni 2015



Dilema Pemberdayaan Masyarakat Dan Strategi Pemerintahan Daerah Guna Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean 2015
Pemerintah Daerah Bali

Bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang terdiri dari beranekaragam suku, bahasa, dan budaya. Dilihat dari banyaknya keanekaragaman, pada dasarnya Indonesia merupakan bangsa rapuh apabila tidak adanya suatu ideologi bangsa yang  mempersatukan keanekaragaman tersebut. Oleh karena itu, untuk mempersatukan keanekaragaman itu dijadikanlah bangsa Indonesia menjadi satu tujuan dan satu cita-cita sebagaimana dalam semboyan  “Bhineka Tunggal Ikha”  yang berarti walaupun kita berbeda-beda akan tetapi tetap satu tujuan. Tujaun yang dimaksud, sudah tertuang didalam Pancasila dan pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi:
“melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.”
Dalam mewujudkan tujuan luhur yang telah dicita-citakan oleh bangsa indonesia, maka hal tersebut dapat diwujudkan melalui pembangunan. Pembangunan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk infrastruktur. Melainkan pembangunan masyarakat agar tercapai sumber daya manusia Negara Indonesia yang berkualitas. Kata pembangunan masyarakat sama halya dengan pemberdayaan masyarakat. Dimana kata pemberdayaan masyarakat merupakan suatu hal yang berkaitan dalam memberdayakan atau meningkatkan sumber daya manusia dari tidak berdaya menjadi berdaya atau dari tidak berkualitas sampai berkualitas. Akan tetapi, pembangunan di Indonesia dari zaman orde baru sampai sekarang hanya berfokus kepada pembangunan infrastruktur saja. Dalam hal memberdayakan masyarakat kurang terrealisasikan di Indonesia. Padahal apabila pembangunan masyarakat atau pemberdayaan masyarakat itu berjalan dengan sebaik-baiknya maka pembangunan infrastruktur juga akan kian berkembang. Karena apabila masyarakat sudah berdaya menjadi masyarakat yang berkualitas maka pembangunan infrastruktur akan berjalan dengan sendirinya siring dengan perkembangan sumber daya manusia yang berkualitas. Dari hal tersebut, sangat dirasakan sungguh dilemanya pemberdayaan masyarakat di Indonesia yang tidak seimbang dengan pembangunan infrastruktur.
            Pemberdayan masyarakat yang kurang terrealisasikan pada dewasa ini sungguh sangat menjadi dilema. Hal tersebut karena pada tahun 2015 akan memasuki persaingan masyarakat ekonomi asean yang sering disebut dengan MEA.  Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) merupakan kesepakatan yang dibuat oleh negara-negara Asia Tenggara yang memiliki tujuan untuk kerjasama yang lebih solit dan kuat. Dengan adanya kerjasama yang solit dan kuat, diharapkan dapat meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN. Sehingga dapat mensejahterakan masyarakat yang ada diseluruh Asia Tenggara. Masyarakat Ekonomi Asean tersebut merupakan salah satu bentuk Free Trade Area ( FTA) dimana AEC akan berintegrasi lewat kerja sama ekonomi regional yang diharapkan mampu memberikan akses yang lebih mudah, tidak terkecuali dalam perdagangan.
            Dapat dikatakan bahwa Masyarakat Ekonomi Asean merupakan sebuah perdagangan bebas se asia tenggara. Ketidak keseimbangan antara pembangunan infrastruktur yang kian berkembang pesat dengan pemberdayaan masyarakat yang kurang maksimal, sangat menjadi kelemahan bagi negara Indonesia dalam menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi Asean tersebut. Oleh karena itu, peran pemerintah dalam memberdayakan masyarakat agar menjadi masyarakat yang berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi sangan berperan penting. Karena pemerintah daerah merupakan ujung tombak dalam menghadapi persaingan masyarakat ekonomi asean tersebut. 
Dalam memberdayakan masyarakat Indonesia guna menghadapi tantangan pada tahun 2015 ini, yakni persaingan Masyarakat Ekonomi Asean. Maka peran kebudayaan dalam pembangun masyarakat sangatlah cocok diterapkan di Indonesia yang notabene beranekaragam suku dan budaya. Contohnya seperti di pemerintah Daerah Bali, Bali berkembang karena kekuatan tradisional yang dipertahankan orang Bali dengan harga yang sangat mahal. Pelaksanaan upacara yang hampir terjadi setiap hari dengan perlengkapan adat adalah bagian dari tradisi yang kalau tidak dihubungkan dengan modernitas yang berkembang di luar negeri atau bagian lainnya dari Indonesia (turis),  daerah Bali pasti akan menjadi sasaran destinasi untuk tujuan berpariwisata.
Selain dari unsur kebudayaan, pada tahun 2014 lalu pemerintah daerah Bali telah mempersiapkan cara dalam memberdayakan masyarakat dengan membentuk LPK (Lembaga Kopetensi Kerja) yang sudah terakreditasi. Tahun 2014 ada Kegiatan Optimalisasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali  yaitu Akreditasi terhadap 10 LPK yang tersebar di Kabupaten/Kota. Adapun LPK yang di Akreditasi adalah sebagai berikut :
1.     LPK. Bidadari yang beralamat di Jl. Segara Katon 18 Dusun Purwa, Desa pengastulan, Kabupaten Buleleng di akreditasi Tanggal 1 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali untuk kejuruan SPA THERAPIST.
2.     LPK. Kencana Dewi yang beralamat Jl. A. Yani No. 207 X Singaraja, Kabupaten Buleleng di akreditasi tanggal 2 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Kecantikan Kulit.
3.     LPK. Silakarang yang beralamat Br. Silakarang, Desa Singapadu, Kec. Sukawati, Kabupaten Gianyar di akreditasi tanggal 6 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Boga.
4.     LPK. Bali Cruise Service Training Center beralamat, Jl. Jl. Tegal Cangkring Perancak, Dusun Anyar Desa Air Kuning, Kabupaten Jembrana di akreditasi tanggal 7 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Graha.
5.     LPK. LP2B Jembrana yang beralamat Jl. Raya Negara Gilimanuk Km. 4 Desa Banyu Biru, Kabupaten Jembrana di akreditasi tanggal 9 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Boga
6.     LPK. Gajah Wahana yang beralamat Desa Sesana, Kec. Bebandem, Kabupaten  di akreditasi tanggal 13 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan TATA BOGA.
7.     LPK. World Training Center yang beralamat Jl. Cempaka No. 6 Lingkungan Kerta Sari Amlapura, Kabupaten Karangase di akreditasi tanggal 16 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Pelayanan Makanan dan Minuman.
8.     LPK. Bulan Palapa dengan alamat Jl. Raya Penaga, Desa Penaga, Kec. Tembuku, Kabupaten Bangli di akreditasi tanggal 16 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Bahasa Jepang
9.      LPK. Rahayu, yang beralamat Jl. Gunung Rinjani N0 5 Semarapura, Kabupaten Klungkung di akreditasi tanggal 20 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Rias Pengantin
10.    LPK. Nila dengan alamat Jl. Puputan, Desa Tojan, Kabupaten Klungkung di akreditasi tanggal 21 Oktober 2014 oleh Tim Akreditasi Komite Akreditasi Lembaga Pelatihan Kerja (KA-LPK) Provinsi Bali kejuruan Tata Kecantikan Kulit.
            Dari pembentukan lembaga pelatihan kerja ditiap-tiap daerah provinsi bali, dapat dikatakan pemerintah provinsi bali dalam menghadapi masyarakat ekonomi asean sudah sedikit memliki persiapan. Oleh karena itu, pemerintah daerah yang terdapat diseluruh Indonesia harus dapat mencontoh pemerintah daerah Bali dalam mempersiapkan persaingan Masyarakat Ekonomi Asean. Guna menyeimbangkan pembangunan insfrastruktur dengan pemberdayaan masyarakat yang telah menjadi dilema dari zaman orde baru sampai sekarang.

Refrensi :
1.   Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945